Candi Gunung Kawi
Mengagumi Keagungan Candi Gunung Kawi, Tampak Siring: Warisan Raja Udayana Di Lembah Suci Bali
Candi Gunung Kawi adalah salah satu situs purbakala paling menakjubkan di Bali. Terletak di Dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, situs ini unik karena sepuluh monumen candi setinggi sekitar 7 meter dipahat langsung pada dinding tebing batu cadas di lembah Sungai Pakerisan.
Sejarah Singkat dan Dinasti Warmadewa
Pembangunan Candi Gunung Kawi diperkirakan dimulai pada abad ke-11 Masehi dan berlangsung melintasi dua masa pemerintahan penting dari Dinasti Warmadewa:
1. Raja Udayana: Raja terkenal di Bali yang menikah dengan putri Jawa, Gunapriya Dharma Patni. Mereka memiliki putra-putra berpengaruh, termasuk Erlangga (yang menjadi raja di Jawa Timur) dan Anak Wungsu.
2. Raja Anak Wungsu: Diperkirakan pembangunan candi tebing ini selesai di bawah pemerintahannya (abad ke-11 Masehi)
Fungsi utama candi ini adalah sebagai pedharman atau tempat pemujaan dan penghormatan bagi Raja Udayana dan kerabat kerajaan yang telah wafat.
Bukti Arkeologis dan Nama Sungai, Asumsi sejarah diperkuat oleh inskripsi pada ambang pintu semu salah satu candi yang menggunakan huruf Kediri, berbunyi:
"haji lumah ing jalu"
(yang bermakna: sang raja yang [secara simbolis] disemayamkan di Jalu).
Kata 'jalu' yang berarti taji (senjata) pada ayam jantan, diyakini berhubungan dengan nama sungai yang membelah kompleks tersebut: Tukad Pakerisan (Pakerisan, yang berarti tempat keris/senjata). Candi ini ditemukan kembali oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920.
Legenda lokal: Kesaktian Kebo Iwa
Berlawanan dengan proses pembangunan yang panjang, cerita rakyat setempat memberikan sentuhan magis:
Menurut legenda, Candi Tebing Kawi dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama Kebo Iwa. Konon, dengan kuku-kukunya yang tajam dan kuat, Kebo Iwa menatahkan pahatan halus dan baik pada dinding batu cadas tersebut. Pekerjaan yang seharusnya memakan waktu lama, diklaim mampu diselesaikannya hanya dalam sehari semalam. Legenda ini melambangkan kekaguman masyarakat terhadap kemegahan dan ketelitian pahatan candi.
Perjalanan dan Keindahan Alam
Untuk mencapai inti kompleks candi, pengunjung harus melewati tantangan kecil:
• Ratusan Anak Tangga: Terdapat sekitar 315 anak tangga yang terbuat dari batu padas yang akan membawa pengunjung menuruni tubir (tebing) curam Sungai Pakerisan.
• Simfoni Alam: Perjalanan menuruni tangga dibingkai oleh dinding batu dan sawah terasering yang asri, pepohonan rimbun, dan gemericik air dari Tukad Pakerisan yang dikeramatkan. Suasana ini menciptakan ketenangan spiritual yang unik.
Arsitektur dan Fungsi
Kompleks ini terbagi menjadi beberapa kelompok di sisi timur dan barat sungai. Selain candi tebing yang menyerupai stupa atau makam (tidak memiliki bilik seperti candi di Jawa), terdapat juga ceruk-ceruk pertapaan yang digunakan oleh para biksu atau pendeta untuk bersemedi.
Uniknya, keberadaan monumen pemujaan Hindu yang berdampingan dengan ceruk pertapaan Buddha di sekitar lokasi ini juga mengindikasikan adanya toleransi beragama yang telah terjalin sejak masa Kerajaan Bedahulu.
Candi Gunung Kawi tetap menjadi situs suci Hindu
yang masih aktif digunakan untuk upacara keagamaan hingga saat ini, selain menjadi objek wisata sejarah yang penting.
Kesimpulan
Candi Gunung Kawi di Tampaksiring adalah situs bersejarah yang memancarkan keagungan peradaban Bali kuno. Ia adalah bukti nyata kemampuan arsitektur yang luar biasa (memahat tebing), pengingat akan kebesaran Dinasti Warmadewa, dan tempat di mana sejarah berpadu dengan legenda Kebo Iwa. Mengunjungi Gunung Kawi adalah pengalaman spiritual dan visual, membawa kita menyerap keindahan alam yang asri dan ketenangan yang dijaga oleh air suci Tukad Pakerisan.
Komentar
Posting Komentar